dok. pribadi
Tidak Perlu Malu
Sudah hampir 3 bulan ini saya
dikejutkan oleh berbagai berita di media tentang adanya nasi liwet
instant. Ya, ternyata produk tersebut milik salah satu kakak kelas saya
di Politeknik Negeri Bandung. Kang Andris Wijaya. Kembali saya teringat
akan kegigihan dia dalam memasarkan beras yang diawali oleh usaha
keluarga yang turun temurun.
Kang Andris merupakan putra asli
Garut dengan latar belakang keluarga yang mempunyai usaha di bidang
penggilingan serta penjualan beras. Pada suatu kali saat saya bermain ke
rumahnya di daerah Samarang Garut, maka saya pun disajikan pemandangan
persawahan yang sangat luas. Pada kala itu, beras miliknya baru
dipasarkan di wilayah Samarang Garut. Tampak beberapa pekerja sedang
menggiling padi menjadi beras, serta sebagian sedang melakukan
pengepakan guna dijual ke pasar.
Setelah melewati masa kuliah, Kang
Andris sempat bekerja beberapa bulan di salah satu perusahaan swasta.
Namun ternyata meneruskan usaha keluarga akhirnya menjadi tujuan
hidupnya. Pada saat saya dan teman-teman bekerja sebagai anakbuah di
perusahaan manufaktur di Jakarta, Kang Andris secara rutin pun ke
Jakarta untuk memasarkan berasnya. Usaha beras miliknya semakin
berkembang tidak hanya di wilayah Garut namun merambah pula ke Ibukota. Ekspansi wilayah istilah bisnisnya.
Tahun berganti tahun dan ternyata
usaha beras miliknya semakin berkembang. Satu yang perlu untuk diacungi
jempol adalah tidak adanya rasa malu dari juragan beras ini. Pada saat
semua teman-teman telah sukses di karirnya, ternyata Kang Andris tidak
malu untuk terus berjualan beras (istilahnya). Bahkan kadang dengan
candaan, dia sering bilang bahwa dia hanyalah pengantar beras saja. Tidak
ada rasa malu ataupun rendah diri yang ditunjukkan oleh Kang Andris.
Bahkan sikap pantang menyerah terus ditunjukka oleh kakak kelas saya
ini. Salut !
Inovasi Beras Aroma Buah-Buahan
Ketika saya mulai dicekoki oleh
pengertian dari inovasi pada saat menimba ilmu di fakultas ekonomi,
ternyata Kang Andris sudah menerapkan hal ini jauh sebelum ini. Inovasi
yang dilakukan tentu saja berkaitan dengan usahanya di bidang jual beli
beras.
Beberapa pemalsuan merek beras
Garut menjadi beras dari Thailand acapkali dijumpai olehnya. Hal ini
tentu saja membuatnya miris. Mengingat kualitas beras Garut sangatlah
bagus dan rasanya sebagai anak asli garut ( Asgar ),
tentunya dia tidak ingin kekayaan alam milik wilayahnya diklaim sebagai
milik dari negeri orang lain. Namun kecurangan ini tentunya tidak dapat
dielakkan di tengah persaingan perdagangan berasa yang sangat ketat.
Beras sendiri sebagai makanan pokok
masyarakat Indonesia mempunyai pangsa pasar yang sangat luas. Namun
beberapa oknum acapkali menggunakan kesempatan untuk menjadikannya
sebagai bahan pokok yang langka. Akibatnya adalah negara Indonesia yang
merupakan negara agraris mau tidak mau melakukan import beras dari
negeri tetangga. Kerugian dari import beras ini tentu saja berakibat
langsung kepada konsumen dimana konsumen harus menanggung harga beras
jauh lebih tinggi dari harga sebenarnya.
Pasar beras yang sudah ketat atau dapat dikatakan berada pada zona red ocean
membuat Kang Andris berpikir untuk mengembangkan produk dengan cara
yang inovatif. Awal mulanya, inovasi beras miliknya dilakukan dengan
membuat inovasi dalam aroma. Ya, aroma buah-buahan menjadi pilihan utama
Kang Andris dalam melakukan inovasi produk. Beras yang biasanya tidak
mempunyai aroma, mulai dikenal mempunyai berbagai aroma pada era 3 tahun
ke belakang. Hal ini didukung oleh banyaknya buah-buahan di Indonesia
serta untuk memperkenalkan beras ke wilayah Internasional. Cobalah anda
teliti sekali lagi bahwa di buah-buahan Thailand menjadi incaran bagi
turis asing. Turis mancanegara sangat menyukai aroma buah-buahan yang
segar. Dan ternyata beras dengan aroma buah-buahan ini terbukti mampu
menembus pasar Abudhabi. Beras ini acapkali disebut pula dengan istilah aromatic rice.
Inovasi Beras Instant
Diawali dengan keinginan untuk
terus memajukan produk lokal, maka Kang Andris terus berupaya untuk
berinovasi lagi. Seperti dalam teori orang Jepang mengenai Kaizen
(berkelanjutan), maka inovasi pada beras semakin berlanjut dan
berkembang. Setelah melalui berbagai tahapan, akhirnya pada tahun 2011,
beras instant tercipta oleh tangan kakak kelas saya ini.
Dahulu, mungkin kita tidak akan
pernah terpikir untuk membuat beras dalam waktu yang singkat. Inovasi
yang dilakukan sebatas pada alat masak yang digunakan untuk membuat
nasi. Namun tetap saja nasi disuguhkan dalam keadaan polos dan masih
memerlukan proses pengolahan lebih lanjut. Namun saat ini dengan adanya
beras instant, kita dapat memasak nasi dalam waktu yang lebih singkat
tanpa ada pengolahan lebih lanjut. Jika dahulu kita mengenal eranya mie
instant, maka saat ini mulai berkembang era nasi instant. Nilai lebih dari sisi kepraktisannya sangat cocok bagi semua kalangan yang bergaya hidup simple dan serba cepat. Ada
satu hal lagi yang menarik dari beras instant ini. Jika dahulu Garut
hanyalah terkenal dengan dodolnya, maka saat ini beras instant mulai
dilirik untuk oleh-oleh dari Garut.
Akhir kata, saya hanya berpikir
bahwa kita tidak perlu malu pada saat berusaha dan tentu saja tidak
boleh ada kata menyerah. Inovasi pun dapat diciptakan kapan dan dimana
saja.
Ayo terus berinovasi !

























