Judul: Memang Jodoh
Penulis : Marah Rusli
Penyunting: Melvi Yendra
Proofreader: Emi Kusmiati
ISBN: 978-602-9225-84-6
Halaman: 536
Penerbit: Penerbit Qanita
Hidup
Mati
Rezeki
Jodoh
Semuanya
sudah diatur oleh Maha Pencipta. Sering kali, sebagai manusia kita
merasa tahu banyak hal, jodoh yang terbaik bagi kita misalnya. Berbagai
cara dilakukan guna memperoleh belahan jiwa yang terbaik bagi anak
keturunan. Kadang terlupakan yang terbaik menurut kita belum tentu yang
terbaik di hadapan Maha Tahu.
Hamli
muda merasa resah, Sebagai sosok muda yang tampan, pandai, memiliki
darah bangsawan perempuan Padang mana yang tak akan terpesona dengan
sosoknya. Para ibu berlomba menjadikannya menantu. Jika ia mau, dengan
menjalankan adat, yaitu dilamar dan dinikahkan maka bisa dipastikan ia
tak perlu bekerja dengan susah payah. Sebagai bangsawan ia tak perlu
menanggung biaya prosesi pernikahan, bahkan menafkahi istri dan anak
kelak Sebaliknya Hamli justru akan diberi nafkah semua kebutuhannya
dipenuhi oleh mamak (paman) atau mertua. Posisinya dalam keluarga
dimulikan, disanjung tinggi bahkan seluruh keinginannya dipenuhi.
Tapi bukan itu keinginannya.
Jiwa
mudanya tak ingin pergi melanjutkan sekolah ke Belanda menghabiskan
biaya besar agar kelak mendapat gaji besar apalagi membiarkan dirinya
dilamar agar memperoleh uang yang lumayan. Ada sesuatu yang mengusik
hatinya. Jika ditelaah, sejak kecil ia selalu terlihat menanggung pilu
akan sesuatu. Saat sedang bergembira mendadak ia terdiam lalu termenung
hingga berjam-jam. Pikiran dan perasaannya kosong. Wajahnya menunjukan
pedih dalam hati, air mata yang menetes menambah jelas pilu yang
ditahan.
Berbagai
usulan dan lamaran menikah ditampiknya walau banyak yang menyarankan
menikah bisa mengobati pedih hatinya. Baginya menikah bukanlah perkara
mudah, apalagi jika ia belum menemukan sosok yang tepat. Sebagai siswa
ia juga belum memiliki penghasilan yang cukup untuk membiayai sebuah
rumah tangga meskipun sebagai seorang Marah harusnya ia tak memusingkan
soal itu. Hamli tidak ingin dibantu. Baginya anak istri adalah
tanggungannya, bukan tanggungan mamaknya. Sungguh hal yang tak biasa
bagi seorang Sultan atau seorang Marah.
Keputusannya
untuk bersekolah di Bogor terbukti merupakan hal yang tepat. Di sana
Hamli menemukan obat bagi rasa pedih dan pilunya. Putri Wedana Cibinong,
Nyai Radin Asmawati merupakan sumber kesembuhan Hamli. Bersamanya Hamli
berubah menjadi sosok yang ceria. Sembuhlah ia dari penyakit yang
selama ini dideritanya.
Pesta
perkawinan Hamli dan Din Wati bukanlah pesta perkawinan ala 1001 malam
walau keduanya merupakan orang terpandang dan keturunan bangsawan.
Perbedaan latar belakang membuat pernikahan mereka harus dirahasiakan
dari kedua belah pihak. Bagi keluarga Hamli, ia sudah mencoreng adat
dengan tidak menikahi perempuan dari tanahnya. Bagi kerabat Hamli, Din
Wati telah mencuri hak para perempuan.
Sementara
bagi kerabat Din Wati, sosok Hamli sebagai seorang pelajar sungguh tak
layak bersanding dengannya. Latar belakang keluarganya dianggap tidak
jelas. Belum lagi trauma para kerabat akan nasib salah satu anggota
keluarga yang mengalami siksa ketika menikah dengan seorang yang berasal
dari Padang. Sang kerabat mengalami siksa bathin dan fisik. Ipar
perempuannya merebut perhiasan dan pakaian yang dibawanya dari rumah
orang tua hanya dikarenakan sang suami tidak bisa memberikan perhiasan
dan pakaian yang sama. Tak ketinggalan aneka tugas berat yang harus
dikerjakannya. Puncaknya saat sang suami menikah lagi dengan salah satu
perempuan Padang dengan alasan adat.
Meski
banyak pihak yang menentang pernikahan mereka Hamli dan Din Wati tetap
bertekat menjalani ikatan suci mereka seumur hidup dengan sabar dan
iklas. Berbagai cobaan seperti fitnah mengenai asal-usul Din Wati, aneka
lamaran yang masih terus mengalir ke Hamli tidak ditanggapi dengan
serius. Dengan tegas Hamli menyatakan hanya akan menjadikan Din Wati
satu-satunya istrinya. Dan kepada seluruh keturunannya akan diberikannya
pesan untuk mengikuti tindakannya.
Mahligai
kehidupan pernikahan Hamli dan Din Wati juga mengalami beragam hal-hal
luar biasa. Dimulai dari pesan almarhum guru bapak Din Wati bahwa kelak
melalui Din Wati sang guru akan kembali menitis. Ramalan bahwa jodoh Din
Wati akan segera tiba sesaat sebelum pertemuan mereka yang pertama,
mimpi ibunda Hamli mengenai jodoh anaknya. Bahkan peristiwa seorang
pengemis yang membuat seluruh keluarga Hamli selamat dari peristiwa
meletusnya Gunung Kelud. Keduanya Memang Jodoh.
Buku
ini menawarkan sebuah kisah
cinta yang bernuansa unik. Pernikahan beda adat, asal budaya memang
bukan hal yang mudah, apalagi saat itu. Berbagai benturan yang terjadi
harus disikapi dengan bijak. Butuh kesabaran dan keiklasan untuk
menyatukan dua kepribadian yang dibentuk
Banyak
pesan moral yang bisa kita petik dari kisah ini. Buku ini perlu dibaca
oleh mereka yang ingin membuka babak baru dalam kehidupan, menikah.
Sehingga mereka mendapat bekal bagaimana bersikap dalam berumah tangga.
Terutama bagi mereka yang berasal dari latar belakang budaya yang
berbeda.
Beberapa
adat mungkin sudah tidak terlalu dipermasalahkan saat ini, seperti
berjalan harus berjauhan. Hanya bisa bercakap-cakap dalam kamar saat
berdua dengan pasangan. Bagi kaum muda saat ini, hal tersebut merupakan
hal yang dianggap aneh. Namun saat kisah ini dibuat merupakan adat yang
harus dipatuhi.
Cara
Hamli dan Din Wati menunjukan rasa kasih sayang satu dengan lain
diceritakan dengan cara yang menyentuh. Bahasa yang digunakan bisa
dikatakan bahasa yang formil jika dipergunakan saat ini, namun kata yang
dipergunakan menunjukan betapa keduanya saling mencintai.
Penggunaan
bahasa dalam kisah ini merupakan bahasa yang dipergunakan dalam
kehidupan sehari-hari saat itu. Walau begitu tidak sulit untuk bisa
memahami makna yang ingin disampaikan oleh penulis. Karya menawan memang
akan selamanya bisa dinikmati tak lekang oleh waktu.
Kisah dalam novel semi-otobiografi ini
merupakan tanda kasih Marah Roesli bagi istrinya tercinta, disampaikan
pada perayaan hari Ulang Tahun Pernikahan yang ke-50. Terdorong oleh
kenangan akan kejadian dan peristiwa yang dialami selama pernikahan
membuat Marah Rusli mampu membuat untaian kata dalam kisah ini terjalin
begitu indahnya. Penderitaan perjodohan yang terus dialami membuat
beliau mengarang kisah-kisah lain tentang pernikahan di Minangkabau
sebagai bukti protes yang disampaikan secara santun.
Pembaca
juga akan menemukan sebuah pengantar yang ditulis oleh cucu Marah
Rusli, Rully Roesli. Penulis yang berprofesi sebagai dokter ini
mengungkapkan kekaguman akan sosok sang Datuk. Buah tak jauh dari
pohonnya. Yang paling mengagumkan, pembaca juga akan menemukan sebuah
Pidato Pembukaan yang disusun oleh Marah Rusli.
Andai
buku ini memuat coretan tangan ungkapan cinta sang pujangga pada
belahan jiwanya, serta tambahan foto-foto tentunya pembaca akan lebih
bisa meresapi betapa hebatnya kekuatan cinta Hamli dan Din Wati.
Dengan melihat kover, pembaca sudah bisa menyimpulkan bahwa buku ini mengandung kisah seputar kehidupan masyarakat Padang. Apalagi gambar Rumah Gadang jelas terpatri di sana. Sosok Diajeng, sang model membuat saya terkenang sosok Novia K, pemeran Sitti Nurbaya dalam sinetron dengan judul yang sama (kalau tidak salah). Warna coklat yang mendominasi membuat buku ini berkesan klasik. Penempatan endors dari SGA seakan mengukuhkan bahwa ini merupakan mahakarya dalam dunia sastra tanah air.
Dengan melihat kover, pembaca sudah bisa menyimpulkan bahwa buku ini mengandung kisah seputar kehidupan masyarakat Padang. Apalagi gambar Rumah Gadang jelas terpatri di sana. Sosok Diajeng, sang model membuat saya terkenang sosok Novia K, pemeran Sitti Nurbaya dalam sinetron dengan judul yang sama (kalau tidak salah). Warna coklat yang mendominasi membuat buku ini berkesan klasik. Penempatan endors dari SGA seakan mengukuhkan bahwa ini merupakan mahakarya dalam dunia sastra tanah air.
Marah
Halim bin Sutan Abubakar yang dikenal dengan Marah Rusli lahir pada
tanggal 07 Agustus 1889 di Padang, Sumatera Barat. Ayahnya bernama Abu
Bakar, seorang bangsawan dengan gelar Sultan Pangeran. Ibunya merupakan keturunan Sentot Alibasyah, panglima perang Pangeran Diponegoro. Marah Rusli menikah tahun 1911.
Dalam masyarakat Minangkabau, gelar adat khususnya Datuk diwariskan menurut garis ibu . Namun demikian terdapat juga beberapa gelar di Padang Pariaman serta Kota Padang yang diwariskan menurut garis bapak, contohnya Marah (berasal dari Bahasa Aceh, Meurah), Sutan (dari kata sulthan), Sidi, (dari kata Sayyidi) serta Bagindo (Baginda)
-------------------------->
Dalam masyarakat Minangkabau, gelar adat khususnya Datuk diwariskan menurut garis ibu . Namun demikian terdapat juga beberapa gelar di Padang Pariaman serta Kota Padang yang diwariskan menurut garis bapak, contohnya Marah (berasal dari Bahasa Aceh, Meurah), Sutan (dari kata sulthan), Sidi, (dari kata Sayyidi) serta Bagindo (Baginda)
-------------------------->
Sudut Bumi XZ
Belahan Jiwaku,
Sungguh
iri diri ini akan keberuntungan Din Wati. Memiliki suami yang memuja
dan menjaganya dengan seluruh jiwa raga. Niscaya segala masalah akan
menjadi seringan bulu.
Sosok
Hamli sebagai pekerja keras dan teguh memegang prinsip patut ditiru.
Baginya lebih baik hidup seadanya namun mandiri dari pada hidup mewah
namun bergantung pada orang lain.
Banyak
hal yang menyentuh dalam kisah ini yang sebaiknya tak diuraikan dalam
review sehingga pembaca bisa merasakan sensasi mengharukan saat
membacanya. Kubiarkan pembaca menemukan patisari kebahagian dan
perjuangan kedua tokoh dengan membacanya sendiri buku ini
Tapi...,
Dengan hanya 1 eksemplar lagi hadiah dari sis Esti, siapa yang layak mendapatkan buku ini?
Bagaimana jika kita buat kuis saja?
Mereka hanya perlu memberikan jawaban di bawah review ini.
Pertanyaannya sangat simpel, "Bagaimana sikap kalian jika suatu saat pernikahan yang direncanakan ditentang dengan alasan budaya?"
Kita
berdua sangat menghargai kebebasan berpikir, untuk itu biarlah peserta
memberikan jawaban sebagai diri mereka sendiri Jawaban tidak dibatasi
jumlah huruf. Silahkan saja berkreasi semaunya.
Kalau pun ada pembatasan hanyalah saat posting.
Posting ditunggu sampai Hari Kamis, tanggal 27 Juni pukul 09.00 WIB.
Belahan jiwaku
Menatap langit malam ini, ada wajahmu di sana
Mewakili dirimu yang jauh
Kupanjatkan doa
Semoga kasihmu padaku mendekati kasih Hamli kepada Din Wati
Jika serupa merupakan sebuah hal yang sulit
