INDIKATOR
MAKRO PEREKONOMIAN DARI MASA KE MASA
Oleh:
Juwitasari (12.110.0092)
Mita Fitriani ()
Manajemen S1
Semester 

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI (STIE)
“YASA ANGGANA” GARUT
Jl. Otto Iskandardinata No. 278 A.
Tarogong Garut 44151
Telp./ Fax. (0262) 233549
INDIKATOR MAKRO PEREKONOMIAN DARI MASA KE MASA
|
No
|
Masa
|
Laju
Pertumbuhan Ekonomi
|
Inflasi
|
Suku
Bunga
|
Ekspor
|
Impor
|
Kemiskinan
|
|
1
|
Masa orde
lama (Soekarno)
|
PDB tahun
1969 sekitar 0,5% dan pada tahun 1966 mencapai 0,6%
|
>300%
menjelang akhir periode orla
|
|
Kegiatan
ekonomi yang masih dikuasai oleh pengusaha asing
|
Memperketat
impor
|
Kenaikan
inflasi yang sangat tinggi
|
|
2
|
Masa orde
baru
|
Selama
periode 1969-1990 laju pertumbuhan PDB pd harga konstan rata-rata pertahun diatas
7%
|
Inflasi
pada tahun 1966 yang dari 50% turun menjadi 5-10%
|
Krisis
nilai tukar rupiah terhadap dolar AS
|
Penghasil
ekspor yang sangat besar dari minyak
|
|
Penurunan
kemiskinan tidak otomatis terwujud melalui stabilitas politik
|
|
3
|
Masa
transisi
|
Posisi
mata uang Indonesia mulai tidak stabil
|
Krisis
rupiah yang menyebabkan suatu krisis ekonomi juga memunculkan krisis politik
|
Krisis
keuangan
|
Bergantung
pada hasil perkebunan
|
|
KKN
semakin merajalela
|
|
4
|
Masa
reformasi
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Gus Dur
|
Laju pertumbuhan
PDB mulai membaik
|
Inflasi
rendah
|
|
|
Ktrgntngan
impor
|
|
|
|
Megawati
|
PDB
tumbuh 4,3% dari tahun sebelumnya yang hanya 3,8%
|
Inflasi
yang tinggi
|
17%
|
Kinerja
ekspor yang membaik
|
|
|
|
|
SBY
|
Pertumbuhan
PDB thn 2005 lbh rendah rd target
|
Melemahnya
nilai tukar rupiah
|
|
Meningkatnya
ekspor
|
Menurunnya
tingkat impor
|
Harga BBM
yang melambung tinggi
|
Kererangan:
1.
Masa Orde Lama
a) Laju
pertumbuhan ekonomi
Selama
dekade 1950-an hingga pertengahan tahun 1965 Indonesia dilanda gejolak politik
didalam negeri dan beberapa pemberontakan di sejumlah daerah seperti di
Sumatera dan Sulawesi. Akibatnya, pelama pemerintahan Orde Lama, keadaan
perekonomian Indonesia sangat buruk; walaupun sempat mengalami pertumbuhan
ekonomi dengan laju rata-rata per tahun hampir 7% selama dekade 1950an, dan
setelah itu turun drastis menjadi rata-rata per tahun hanya 1,9% atau bahkan
nyaris mengalami stagflasi selama tahun 1965-1966. Tahun 1965 dan 1966 laju
pertumbuhan ekonomi masing-masing hanya sekitar 0,5% dan 0,6%. Selain itu,
pertumbuhan ekonomi yang menurun sejak tahun 1958, dari tahun ke tahun defisit
saldo neraca pembayaran (BoP) dan defisit APBN terus membesar.
b) Inflasi
Rendahnya
volume produksi dari sisi suplay dan tingginya permintaan akibat terlalu
banyaknya uang beredar di masyarakat, mengakibatkan tingginya tingkat inflasi
yang sempat mencapai lebih dari 300% menjelang akhir periode Orde Lama. Hal ini
yang didasarkan data yang dihimpun oleh Arndt (1994), indeks harga pada tahun
1955 sebesar 135 (1954=100) dengan
jumlah uang beredar di masyarakat pada tahun yang sama tercatat sebanyak
12,20juta rupiah, dan pada tahun 1966 indeks harga sudah mencapai diatas
150.000 dengan jumlah uang beredar diatas 5 milyar rupiah. Memang pada masa
pemerintahan Soekarno, selain manajemen moneter yang buruk, banyak rupiah yang
dicetak disebabkan oleh kebutuhan pada saat itu untuk membiayai dua peperangan,
yaitu merebut Irba dan pertikaian dengan Malaysia dan Inggris, ditambah lagi
kebutuhan untuk membiayai penumpasan sejumlah pemberontakan di beberapa daerah
didalam negeri (Tambunan, 2006b).
Dengan
demikian dapat disimpulkan, bahwa buruknya perekonomian Indonesia selama
pemerintahan Orla terutama disebabkan oleh hancurnya infrastruktur ekonomi,
fisik maupun non-fisik, selama pendudukan Jepang, perang dunia II, dan perang
revolusi, serta gejolak politik didalam negeri termasuk sejumlah pemberontakan
di daerah) ditambah lagi dengan manajemen ekonomi makro yang sangat buruk
selama rezim tersebut (Tambunan, 2006b).
c) Ekspor
Selama
periode 1950-an, struktur ekonomi Indonesia masih merupakan peninggalan zaman
kolonialisasi. Sektor formal/ modern seperti pertambangan, distribusi,
transportasi, bank, dan pertanian komersial, yang memiliki kontribusi lebih
besar daripada sektor informal/ tradisional terhadap output nasional atau PDB yang didominasi oleh perusahaan-perusahaan
asing yang kebanyakan berorientasi ekspor. Pada umumnya, kegiatan-kegiatan
ekonomi yang masih dikuasai oleh pengusaha asing tersebut relatif lebih padat
kapital, dibandingkan kegiatan-kegiatan ekonomi yang didomonasi oleh pengusaha
pribumi dan perusahaan-perusahaan asing yang berlokasi di kota-kota besar
seperti Jakarta dan Surabaya (Tambunan, 2006b)
d) Impor
Pada
masa Kabinet Sukiman, kebijakan-kebijakan penting yang diambil adalah antara
lain: nasionalisasi De Javasche bank menjadi Bank Indonesia (BI) dan
penghapusan sistem kurs berganda. Pada masa Kabinet Wilopo, langkah-langkah
kongkret yang diambil untuk memulihkan perekonomian Indonesia saat itu
diantaranya: untuk pertama kali memperkenalkan konsep anggaranberimbang dalam
keuangan pemerintah (APBN), memperketat impor, melakukan “rasionalisasi”
angkatan bersenjata melalui modernisasi dan pengurangan jumlah personil, dan
penghematan pengeluaran pemerintah.
e) Kemiskinan
Keadaan
ekonomi Indonesia- terutama setelah dilakukan nasionalisasi terhadap semua
perusahaan asing Belanda-menjadi buruk dibandingkan keadaan ekonomi semasa
penjajahan Belanda. Ditambah lagi dengan peningkatan inflasi yang sangat tinggi
pada dekade 1950-an. Pada masa pemerintahan Belanda, Indonesia memiliki laju
pertumbuhan ekonomi yang cukup baik, dengan tingkat inflasi yang tinggi di
sektor pertanian (termasuk perkebunan), dan nilai mata uang yang stabil (Alien
dan Donnithorne, 1957)
2.
Masa Orde Baru
a) Laju
pertumbuhan ekonomi
Pada bulan April 1969,
Repelita I dimulai dan dampaknya juga dari Repelita-Repelita berikutnya selama
Orde Baru terhadap perekonomian Indonesia yang cukup mengagumkan, terutama
dilihat pada tingkat makro. Proses pembangunan berjalam sangat cepat dengan
laju pertumbuhan rata-rata per tahun yang cukup tinggi, jauh lebih baik
daripada selama Orla, dan juga relatif lebih tinggi daripada laju rata-rata
pertumbuhan ekonomi dari kelompok NB. Pada awal Repelita I PDB Indonesia
tercatat 2,7 triliun rupiah pada harga berlaku atau 4,8 triliun rupiah pada
harga konstan , dan pada tahun 1990 menjadi 188,5 triliun rupiah pada harga
berlaku atau 112,4 triliun rupiah pada harga konstan. Selama periode 1969-1990
laju pertumbuhan PDB pada harga konstan rata-rata per tahun diatas 7%
b) Inflasi
Pemerintah Orba
berhasil dengan baik menekan tingkat inflasi dari sekitar 500% pada tahun 1966
menjadi hanya sekitar 5% hingga 10% pada awal dekade 1970-an. Pemerintah Orba
juga berhasil menyatukan bangsa dan kelompok-kelompok masyarakat dan meyakinkan
mereka bahwa pembangunan ekonomi dan sosial adalah jalan satu-satunya agar
kesejahteraan masyarakat di Indonesia dapat meningkat.
c) Suku
bunga
Kebijakan-kebijakan
ekonomi selama masa Orba memang menghasilkan suatu proses transformasi ekonomi
yang pesat dan laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tetepi dengan biaya
ekonomi tinggi, dan fundamental ekonomi yang rapuh. Hal terakhir ini dapat
dilihat antara lain pada buruknya kondisi sektor perbankan nasional dan semakin
besarnya ketergantungan Indonesia terhadap modal asing, termasuk pinjaman dan
impor. Ini semua akhirnya membuat Indonesia dilanda suatu krisis ekonomi yang
besar yang diawali oleh krisis nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada
pertengahan tahun 1997 (Tambunan, 2006b)
d) Ekspor
Keberhasilan
pembangunan ekonomi di Indonesia pada zaman Soeharto, tidak saja disebabkan
oleh kemampuan kabinet yang dipimpin oleh Preseden Soeharto jauh lebih baik /solid dibanding pada masa Orla dalam
menyusun rencana, strategi, dan kebijakan pembangunan ekonomi, tetapi juga
berkat tiga hal: penghasil ekspor yang sangat besar dari minyak, terutama pada
periode oil boom pertama pada tahun
1973-1974, pinjaman luar negeri, dan PMA yang (khususnya) sejak dekade 1980-an
perannya di dalam pembangunan ekonomi Indonesia meningkat tajam. Dapat
dikatakan, bahwa kebijakan Soeharto yang mengutamakan stabilitas dan
pertumbuhan ekonomi, yang didasarkan pada
sistem ekonomi liberal dan stabilitas politik yang pro-Barat, telah
membuat kepercayaan pihak Barat terhadap prospek pembangunan ekonomi Indonesia
jauh lebih kuat dibandingkan terhadap banyak NB lainnya (Tambunan, 2006b)
e) Kemiskinan
Pada tingkat meso dan
mikro, hasil pembangunan selama masa itu dapat dikatakan tidak terlalu memukau
seperti pada tingkat makro. Walaupun jumlah orang miskin mengalami penurunan
selama Orba, namun jumlahnya masih besar, dan kesenjangan ekonomi dan sosial cenderung
melebar. Sebenarnya, pemerintah sadar betul akan masalah ini bahkan paradigma pembangunan
ekonomi Indonesia pada era Orba telah diwadahi dengan baik dalam konsep politik
‘Trilogi Pembangunan’ yaitu
stabilitas nasional yang mantap dan dinamis dalam bidang politik dan ekonomi,
pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan pemerataan pembangunan.
Pemerintah juga sadar,
bahwa pemerataan atau penurunan kemiskinan tidak otomatis terwujud melalui
stabilitas politik, karena ketimpangan ekonomi dan sosial atau kemiskinan bisa
muncul dalam kondisi stabilitas politik dan pertumbuhan ekonomi yang pesat.
Oleh karena itu, dalam usaha menghilangkan dampak negatif dari pertumbuhan
ekonomi yang tinggi terhadap kesenjangan dan kemiskinan, di dalam GBHN
dinyatakan sevara tegas bahwa pentingnya usaha-usaha untuk menghilangkan
kemiskinan dan kesenjangan dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi pada waktu
ynag bersamaan. Juga dalam Repelita IV orientasi kebijakan-kebijakannya mengalami
perubahan dari penekanan hanya pada pertumbuhan ke pertumbuhan dengan
pemerataan (Tambunan, 2006b)
3.
Masa Transisi
a) Laju
pertumbuhan ekonomi
Rupiah Indonesia mulai
terasa goyang sekitar bulan Juli 1997, dari Rp 2.500 menjadi Rp 2.650 per dolar
AS. Sejak saat itu, posisi mata uang Indonesia mulai tidak stabil. Menanggapi
perkembangan itu, pada bulan Juli 1997 BI melakukan empat kali intervensi ,
yaitu memperlebar rentang intervensi, yaitu memperlebar rentang intervensi.
Akan tetapi, pengaruhnya tidak banyak, nilai rupiah dalam dolarAS terus
tertekan, dan tanggal 13 Agustus 1997 rupiah mencapai rekor terendah dalam
sejarah, yaitu Rp 2,682 per dolar AS, walaupun sebelumnya antara bulan Januari,
Februari sempat menembus 11.000 rupiah per dolar AS (Tambunan, 2006b)
b) Inflasi
Krisis rupiah yang
menjelma menjadi suatu krisis ekonomi, akhirnya juga menimbulkan suatu krisis
politik yang dapat dikatakan terbesar dalam sejarah Indonesia sejak merdeka
tahun 1945. Krisis politik tersebut diawali dengan penembakan oleh tentara
terhadap empat mahasiswa Universitas Trisakti, tepatnya tanggal 13 mei 1998,
yang dikenal dengan sebutan Tragedi Trisakti. Kemudian, pada tanggal 14 dai 15
Mei kota Jakarta dilanda suatu kerusuhan yang juga daoat dikatakan paling besar
dan paling sadis yang pernah dialami Indonesia. Setelah kedua peristiwa tersebut, gerakan mahasiswa yang sebelumnya
sudah berlangsung semakin gencar.
Menjelang minggu-minggu
terakhir bulan Mei 1998, DPR untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia
dikuasai/diduduki oleh ribuan mahasiswa/i dari puluhan perguruan tinggi dari
Jakarta dan luar Jakarta. Puncak dari keberhasilan gerakan mahasiswa tersebut
di satu pihak, dan dari krisis politik di pihak lain, adalah pada tanggal 21
Mei 1998, yaitu Presiden Soeharto mengundurkan diri dan diganti oleh wakilnya
BJ Habibie. Tanggal 30 Mei 1998 Presiden Habibie membentuk kabinet baru, awal
dari terbentuknya pemerintahan transisi.
c) Suku
bunga
Sekitar bulan September
1997, nilai tukar rupiah yang terus melemah mulai menggoncang perekonomian
nasional. Untuk mencegah agar keadaan tidak tambah buruk, pemerintah Orba
mengambil beberapa langkah konkrit, diantaranya menunda proyek-proyek senilai
Rp 39 trilyun dalam upaya mengimbangi keterbatasan anggaran belanja negara yang
sangat dipengaruhi oleh perubahan nilai rupiah tersebut. Pada awalnya
pemerintah berusaha untuk menangani masalah krisis rupiah ini dengan kekuatan
sendiri. Akan tetapi, setelah menyadari bahwa merosotnya nilai tukar rupiah
terhadap dolar AS tidak dapat dibendung lagi dengan kekuatan sendiri, lebih
lagi karena cadangan dolar AS di BI sudah mulai menipis karena terus digunakan
untuk intervensi dan menahan atau mendongkrak kembali nilai tukar rupiah, pada
8 Oktober 1997 pemerintah Indonesia akhirnya menyatakan secara resmi akan
meminta bantuan keuangan dari IMF. Hal ini juga dilakukan oleh pemerintah
Thailand, Filipina dan Korea Selatan.
Pada akhir bulan
Oktober 1997, lembaga keuangan internasional mengumumkan paket bantuan keuangan
pada Indonesia yang mencapai 40 milyar dolar AS, 23 milyar diantaranya adalah
pertahanan lapis pertama (front-linedefence).
Sehari setelah pengumuman itu, dan seiringa dengan paket reformasi yang
ditentukan oleh IMF, pemerintah Indonesia mengumumkan pencabutan izin usaha 16
bank swasta yang dinilai tidak sehat. Ini merupakan awal dari kehancuran
perekonomian Indonesia.
Paket pemulihan ekonomi
yang disyaratkan IMF pertama kali diluncurkan pada bulan November 1997, bersama
pinjaman angsuran pertama senilai 3 milyar dolar AS. Pertama diharapkan bahwa
dengan disetujuinya paket tersebut oleh pemerintah Indonesia, nilai rupiah akan
menguat dan stabil kembali. Akan tetapi, pada kenyataannya menunjukkan bahwa
nilai rupiah terus melemah sampai pernah mencapai Rp 15.000 per dolar AS.
Kepercayan masyarakat di dalam dan diluar negeri terhadap kinerja ekonomi
Indonesia yang pada waktu itu terus merosot, membuat kesepakatan itu harus
ditegaskan dalam nota kesepakatan (Letter
of Intent/LoI) yang ditandatangani bersama antara pemerintah Indonesia dan
IMF pada bulan Januari 1998. Nota kesepakatan itu terdiri atas 50 butir
kebijaksanaan-kebijaksanaan yang mencangkup ekonomi makro (fiskal dan moneter),
restrukturisasi sektor keuangan, dan reformasi struktuktural (Tambunan, 2006b).
d) Kemiskinan
Pada awalnya pemerintahan
yang dipimpin oleh Habibie disebut pemerintahan reformasi. Akan tetapi setelah
setahun berlalu, masyarakat mulai melihat bahwa sebenarnya pemerintahan baru
ini tidak berbeda dengan pemerintahan sebelumnya, mereka juga orang-orang rezim
Orba, dan tidak ada perubahan-perubahan yang nyata. Bahkan KKN semakin
menjadi-jadi, kerusuhan muncul dimana-mana, dan masalah Soeharto tidak
terselesaikan. Akhirnya, banyak kalangan masyarakat lebih suka menyebutnya
pemerintahan transisi dari pada pemerintahan reformasi (Tambunan, 2006b)
4.
Masa Reformasi
4.1 Masa
Pemerintaha Gus Dur
a) Laju
pertumbuhan ekonomi
Dalam
hal ekonomi, dibandingkan tahun sebelumnya, tahun 1999 kondisi perekonomian
Indonesia mulai menunjukkan adanya perbaikan.laju pertumbuhan PDB mulai positif
walaupun tidak jauh dari 0%, daripada tahun 2000 proses pemulihan perekonomian
Indonesia jauh lebih baik lagi, dengan laju pertumbuhan hampir mencapai 5.
Selain pertumbuhan PDB, laju inflasi dan tingkat suku bunga yang diwakili oleh
SBI juga rendah ynag mencerminkan bahwa kondisi moneter didalam negeri sudah
mulai stabil.
b) Inflasi,
impor dan kemiskinan
Selama
pemerintahan Gus Dur, praktis tidak ada satupun masalah didalam negara yang
dapat terselesaikan dengan baik. Berbagai kerusuhan sosial yang bernuansa disintegrasi
dan sara terus berlanjut, misalnya pemberontakan Aceh, konflik Maluku, dan
pertikaian etnis di Kalimantan Tengah. Belum lagi demonstrasi buruh semakin
gencar yang mencerminkan semakin tidak puasnya mereka terhadap kondisi
perekonomian didalam negeri, juga pertikaian elit pilitik semakin besar
Pada
April 2001 sempat menyentuh Rp 12.000 per dolar AS. Inilah rekor kurs rupiah
terendah sejak Abdurraman Wahid terpilih sebagai Presiden RI, mengalami dampak
negati terhadap roda perekonomian nasional yang bisa menghambat usaha
pemulihan, bahkan bisa membawa Indonesia ke krisis kedua yang dampaknya
terhadap ekonomi, sosial, dan politik
akan jauh lebih besar daripada krisis pertama. Dampak negatif ini terutama
karena dua hal. Pertama, perekonomian
Indonesia masih sangat tergantung pada impor, baik untuk barang-barang modal
dan pembantu, komponen dan bahan baku, maupun barang-barang konsumsi. Kedua, ULN Indonesia dalam nilai dolar
AS, baik dari sektor swasta maupun pemerintah, sangat besar. Indikator-indikator
lainnya adalah angka inflasi yang di prediksi dapat menembus dua digit, dan
cadangan devisa yang pada minggu terakhir Maret 2000 menurun dari 29 milyar
dolar AS menjadi 28,875 dolar AS.
4.2 Masa
Pemerintahan Megawati
a) Laju
pertumbuhan ekonomi
Dalam
era Megawati kinerja ekonomi Indonesia menunjukan perbaikan, paling tidak
dilihat dari laju pertumbuhan PDB. Pada tahun 2002 PDB Indonesia tumbuh 4,3%
dibanding 3,8% pada tahun sebelumnya, dan kemajuan ini berlangsung terus hingga
akhir periode Megawati yang mencapai 5,1%. PDB nominal meningkat dari 168
milyar dolar AS tahun 2001 menjadi 258 milyar dolar AS tahun 2004, demikian
juga pendapatan perkapita meningkat dengan presentase yang cukup besar dari 697
dolar AS ke 1.191 dolar AS selama periode Megawati.
b) Inflasi
Inflasi
yang dihadapi “Kabinet Gotong Royong”
pimpinan Megawati juga sangat berat.menurut data dari BPS, inflasi tahunan pada
awal pemerintahan Gus Dur hanya sekitar 2%, sedangkan pada awal pemerintahan
Megawati, atau periode Januari-Juli 2001 tingkat infasi sudah mencapai 7,7%.
Bahkan laju inflasi tahunan atau year on
year selama periode Juli 2000-Juli 2001 sudah mencapai 13,5%. Perkembangan
ini pada saat itu sangat mengkhawatirkan karena dalam asumsi APBN 2001 yang
sudah direvisi, pemerintah mentargetkan inflasi dalam tahun 2001 hanya 9,4%.
c) Suku
bunga
Keterpurukan
kondisi ekonomi yang ditinggal Gus Dur kian terasa jika dilihat dari
perkembangan indikator ekonomi lainnya seperti tingkat suku bunga, inflasi
saldo neraca pembayaran, dan defisit APBN. Suku bunga untuk SBI. Misalnya, pada
awal pemerintahan Megawati mencapai diatas 17%, padahal saat awal pemerintahan
Gus Dur hanya sekitar 13%. Bersamaan dengan itu, tingkat suku bunga, deposito
perbankan juga ikut naik menjadi sekitar 18%, sehingga pada masa itu
menimbulkan kembali kekhawatiran masyarakat dan pelaku bisnis, bahwa bank-bank
akan kembali melakukan bledding.
d) Ekspor
Kinerja
ekspor membaik dengan pertumbuhan 5% tahun 2002 dibanding -9,3% tahun 2001, dan
terus naik hingga mencapai 12% tahun 2004. Namun demikian, neraca perdagangan (NP), yakni saldo ekspor (X)- impor (M)
barang, maupun transaksi berjalan (TB), sebagai presentase dari PDB, mengalami
penurunan.
4.3 Masa
Pemerintahan SBY
a) Laju
pertumbuhan ekonomi
Pada
bulan-bulan pertama pemerintahan SBY, rakyat Indonesia, pelaku usaha luar dan
dalam negeri maupun negara-negara donor serta lembaga-lembaga dunia seperti
IMF, Bank Dunia dan ADB sempat optimis bahwa kenerja ekonomi Indonesia 5 tahun
kedepan akan jauh lebih baik dibanding pada masa pemerintahan-pemerintahan
sebelumnya sejak Soeharto lengser. Bahkan kabinet SBY dan lembaga-lembaga dunia
tersebut menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2005 akan berkisar
sedikit diatas 6%. Target ini dilandasi oleh asumsi bahwa kondisi polotik di
Indonesia akan terus membaik dan faktor-faktor eksternal yang kondusif (tidak
memperhitungkan akan adanya gejolak harga minyak di pasar dunia), termasuk
pertumbuhan ekonomi dari motor-motor utama penggerak perekonomian dunia seperti
AS, Jepang, Unit Eropa, dan Cina akan meningkat. Pada pertengahan kedua tahun
2005 ekonomi Indonesia diguncang oleh dua peristiwa yang tak terduga sama
sekali, yaitu naikya harga BBM di pasar Internasional dan melemahnya nilai
tukar rupiah terhadap dolar AS. Dua hal ini membuat realisasi pertumbuhan PDB
tahun 2005 lebih rendah dari target tersebut.
b) Inflasi
Kombinasi
antara kenaikan harga BBM dan melemahnya nilai rupiah akan berdampak pada peningkatan
laju inflasi. Menurut data perkiraan dari BI (Agustus 2005), inflasi dari
indeks harga konsumen (IHK) cenderung berada pada tingkat yang cukup tinggi
yaitu 7,42%. Sementara itu, menurut Citigroup, pada tahun 2005 inflasi
indonesia berada pada tingkat 6,2% dan merupakan tertinggi diantara banyak
negara di Asia. Secara fundamental , tingginya inflasi di Indonesia disebabkan
oleh masih tingginya ekspentasi inflasi terkait dengan kebijakan pemerintah
mengenai kenaikan administeredprices
dan perkembangan nilai tukar rupiah yang cenderung terus melemah. Melemahnya
nilai tukar rupiah memberi tekanan terhadap inflasi didalam negeri terutama
karena tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor, namun dengan tingkat
yang lebih rendah dibanding rata-rata historisnya. Seperti pada masa
pemerintahan-pemerintahan sebelumnya, pemerintah SBY juga berusaha menahan
tingkat inflasi serendah mungkin atau paling tidak tetap dalam satu digit.
c) Ekspor
dan Impor
Sesuai
teori, dengan asumsi faktor-faktor lain tetap tidak berubah, melemahnya rupiah
akan membuat ekspor Indonesia meningkat sedangkan impornya berkurang. Namun
pengalaman Indonesia selama krisis ekonomi 1997-1998 menunjukkan, bahwa ekspor
Indonesia ternyata tidak terlalu elastis terhadap pergerakan rupiah yang
memberi indikasi adanya supply bottlenck yang
serius didalam negeri, dan masalah suplai ini hingga saat ini belum hilang sama
sekali.artinya, pengaruh dari melemahnya rupiah kali ini bisa sangat kecil
terhadap peningkatan ekspor Indonesia. Sementara itu, Indonesia sudah sangat
tergantung pada impor barang-barang kebutuhan ppokok, mulai dari barang-barang
konsumsi seperti makanan dan susu hingga barang-barang modal dan peralatan
produksi serta bahan baku seperti minyak, yang membuat impor Indonesia juga
kurang elastis terhadap pergerakan rupiah
d) Kemiskinan
Kenaikan
harga minyak menimbulkan tekanan yang sangat berat terhadap keuangan pemerintah
(APBN). Akibatnya, pemerintah terpaksa mengeluarkan kebijakan yang sangat
populis, yaitu mengurangi subsidi BBM, yang membuat harga BBm dipasar dalam
negeri meningkat tajam. Kenaikan harga BBM yang besar untuk industri terjadi
sejak 1 Juli 2005. Harga solar untuk industri dari Rp 2.200 per liter menjadi
Rp 4.750 per liter (naik 115%). Tanggal 1 Agustus 200, kenaikan harga minyak
tanah untuk industri dari Rp 2.200 per liter menjadi Rp 5.490 per liter (naik
93%). Pada 1 Oktober 2005, pemerintah menaikan lagi harga BBM yang berkisar
antara 50-80%. Diperkirakan hal ini akan sangat berdampak negatif terhadap
kegiatan ekonomi domestik, terutama pada periode jangka pendek karena biaya
produksi meningkat.
KESIMPULAN:
DAFTAR
PUSTAKA
Prof. Dr. Tulus
T.H Tambunan (2012), Perekonomian
Indonesia, Bogor : Ghalia Indonesia