INDIKATOR PEMBANGUNAN
DAN
TINGKAT KESEJAHTERAAN
(DI RW 003 DESA
TENJOWARINGIN KECAMATAN SALAWU, TASIKMALAYA)
Oleh:
Juwitasari
12.110.0092
Manajemen S1
Semester 

SEKOLAH
TINGGI ILMU EKONOMI (STIE)
“YASA ANGGANA” GARUT
Jl.
Otto Iskandardinata No. 278 A. Tarogong Garut 44151
Telp./
Fax. (0262) 233549
BAB I
LATAR BELAKANG
1.1. Latar Belakang
Dalam proses pembangunan apapun bentuknya pasti
menimbulkan dampak positif maupun negatif bagi masyarakat dan negara. Untuk itu
sebelum melaksanakan pembangunan maka pemerintah tersebut harus mengetahui
karakteristik masyarakatnya, sehingga dampak negatif dari pembangunan dapat
diminimalisir jika tidak dapat dihilangkan. Oleh karena itu, diperlukan
indikator-indikator yang dapat dijadikan tolak ukur terjadinya pembangunan.
Salah satu indikator keberhasilan pembangunan adalah
semakin meningkatnya kesejahteraan penduduk daerah yang bersangkutan dengan
semakin meningkatnya pemerataan kesejahteraan penduduk menyebabkan tingkat
kemiskinan dan pengangguran dapat diminimalisir dari daerah yang bersangkutan.
Untuk menilai
keberhasilan pembangunan, ada syarat yang diperlukan untuk mengukur atau
menunjukkan tingkat keberhasilan pembangunan. Syarat itu harus dimulai dari
tingkat pemahaman semua komponen terkait indikator-indikator/variabel-variabel
pembangunan serta pengertian penerapan kebijakan dan hasil dari proses
pelaksanaan kebijakan.
Pemahaman
memadai tentang indikator pembangunan, menunjukan semakin terarah pelaksanaan
pembangunan dan semakin tingginya responsif masyarakat dalam mensukseskan dan
mencapai sasaran yang ditargetkan dari proses yang ada. Untuk itu, sebelum
membahas lebih jauh tentang masalah pembangunan dengan indikator-indikatornya
maka terlebih dahulu kita ketahui pengertian, makna dan hakikat pembangunan.
1.2. Pengertian, Makna dan
Hakikat Pembangunan
Pengertian Pembangunan harus kita lihat secara
dinamis, dan bukan dilihat sebagai konsep statis. Pembangunan adalah suatu
orientasi dan kegiatan usaha yang tanpa akhir. Proses pembangunan sebenarnya
adalah merupakan sosial budaya. Pembangaunan agar dapat menjadi suatu proses
yang dapat bergerak maju atas kekuatan sendiri tergantung kepada manusia dan
struktur sosialnya. Jadi, bukan hanya yang dikonsepsikan sebagai usaha
pemerintah belaka.
Pembangunan ekonomi dapat didefinisikan sebagai
“suatu rangkaian proses kegiatan yang dilakukan oleh suatu negara untuk
mengembangkan kegiatan atau aktivitas
ekonomi untuk meningkatkan taraf hidup/kemakmuran (Income per-kapita) dalam jangka panjang”. Kemakmuran itu sendiri ditunjukkan
meningklatnya pendapatan perkapita masyarakat (Pendapatan Domestik Bruto atau GNP) adanya keseimbangan
antara supplay dan demand di pasar.
Proses pembangunan menghendaki adanya pertumbuhan
ekonomi yang diikutin dengan perubahan (growth
plus change) dalam: (1) perubahan struktur ekonomi, dari pertanian ke
industri atau jasa; (2) perubahan kelembagaan, baik lewat regulasi maupun
reformasi kelembagaan.
Jadi, pembangunan ekonomi harus dipandang sebagai
suatu proses saling keterkaitan dan saling mempengaruhi antar faktor-faktor
yang menghasilkan pembangunan ekonomi. Dengan demikian pembangunan ekonomi
dipandang sebagai kenaikan dalam pendapatan per-kapita, karena kenaikan
tersebut merupakan penerimaan dan timbulnya perbaikan kesejahteraan ekonomi masyarakat
yang digambarkan dengan tingkat pertambahan GDP/GNP. Sedangkan pertumbuhan
ekonomi diartikan sebagai kenaikan GDP/GNP tanpa memandang apakah kenaikan itu
lebih besar atau lebih kecil dari pertumbuhan penduduk, atau apakah
terjadi perubahan struktur ekonomi atau
tidak.
Dengan demikian suatu perekonomian dapat dikatakan
dalam keadaan berkembang jika pendapatan perkapita menunjukan kecenderungan
jangka panjang yang naik.
1.3. Tujuan Pembahasan
Tujuan
pembahasan penelitian di RW 003 ini adalah sebagai berikut:
1.
Untuk menggambarkan
proses pembangunan di RW 003
2.
Menjelaskan indikator
ekonomi dan sosial serta indikator lainnya yang telah dicapai di RW 003
3.
Menjelaskan tingkat
kesejahteraan di RW 003
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 The Physical Quality of
Life Inddex (PQLI)
Ukuran kesejahteraan yang lain disamping pendapatan
nasional adalah indeks mutu hidup (physical
quality of life index, PQLI). PQLI adalah indeks non-ekonomi yang merupakan
kombinasi dari tiga indikator:
·
Kematian
bayi (jumlah kematian tahunan dari bayi yang berumur dibawah satu tahun per
1000 yang hidup
·
Harapan
hidup mulai umur 1 tahun (menghindari overlap
dengan kematian bayi)
·
Tingkat
melek huruf (dalam persentase).
dua
variabel yang pertama mewakili nutrisi, kesehatan masyarakat, pendapatan, dan
lingkungan umum. Sebagai contoh, kematian bayi mencerminkan ketersediaan air
bersih, kondisi lingkungan rumah, dan kesehatan ibu. Tingkat melek huruf adalah
ukuran tingkat pendidikan.
2.2 The Human Development
Index (HDI)
The United Nations
Development Program (UNDP) mendefinisikan
pembangunan manusia sebagai sebuah proses memperluas pilihan masyarakat. Yang
paling penting adalah pilihan untuk berumur panjang dan sehat, mendapatkan
pendidikan yang cukup, dan menikmati standar kehidupan yang layak. Ketika
banyak kalangan mengatakan bahwa tahun 1980-an adalah sebuah ‘dekade yang
hilang’ bagi negara-negara berkembang, UNDP mengatakan bahwa sebenarnya
perbedaan pembangunan manusia antara DCs dan LDCs adalah jauh lebih kecil
daripada kesenjangan dalam pendapatan per kapita. Kesenjangan dalam pendapatan
per kapita antara negara-negara Barat dan negara-negara berkembang, memang
membesar, tetapi seiring dengan itu kesenjangan pembangunan manusianya semakin
menyempit. Bagaimana UNDP bisa mengukur pembangunan manusia itu? UNDP telah
menyusun ukuran alternatif tentang kesejahteraan, yaitu The Human Development Index (indeks
pembangunan manusia).
HDI meringkas tiga variabel kesejahteraan dan
meringkasnya dalam sebuah indeks komposit tunggal. Variabel-variabel tersebut
adalah:
·
Umur
Panjang (longevity), sebagai pengukur
kesehatan dan nutrisi. Umur panjang
diukur dengan merata-rata harapan hidup (dalam tahun) dari tingkat kelahiran,
dihitung dengan mengasumsikan bahwa seorang bayi lahir dalam satu tahun
tertentu akan mengalami tingkat kematian seketika dari tiap kelompok umur
(tahun pertama, tahun kedua, tahun ketiga, dan seterusnya sampai tahun ke-n)
sepanjang hidupnya.
·
Pendidikan.
Terdiri dari rata-rata terbobot antara
(a) tingkat melek huruf dari kaum dewasa dalam persentase (bobot 2/3), (b)
tahun-tahun utama dari masa sekolah seseorang sepanjang 25 tahun dari umurnya
(bobot 1/3)
·
Standar
hidup. Indikator standar kehidupan GDP per
kapita rill dalam dolar PPP, dengan tanpa diskon sampai dengan suatu tingkat
kemiskinan global dengan dasar kebutuhan pendapatan yang dibutuhkan untuk
mencapai tingkat nutrisi minimal (1$4,829 pada tahun 1990), dan diskon yng
meningkat dengan progresif dengan meningkatkan pendapatan, merefleksikan
utilitas marjinal yang semakin menurun dari pendapatan.
Untuk
menyusun sebuah indeks komposit, kita harus menentukan nilai maksimum dan minimum
untuk tiap tiga variabel harapan hidup, pendidikan, dan GDP rill per kapita
yang sudah disesuaikan. Kita menormalkan nilai observasi untuk masing-masing
variabel dengan skala 0-1. Kemudian kita mengukur depreviasi kemudian
merata-rata tiga tingkat depreviasi untuk mendapatkan HDI. HDI dapat
diasumsikan bernilai antara 0 sampai dengan 1.
2.3 Pemenuhan Kebutuhan
Pokok
Pendekatan kebutuhan pokok menggeser perhatian dari memaksimalkan output menjadi meminimalkan kemiskinan. Perhatian
sekarang ditekankan bukan hanya pada ‘seberapa banyak yang harus diproduksi’,
akan tetapi juga pada ‘apa yang harus diproduksi, dengan cara bagaimana, untuk
siapa, dan dengan konsekuensi yang bagaimana’.
Kebutuhan pokok meliputi nutrisi, pendidikan dasar,
kesehatan, sanitasi, suplai air dan perumahan yang cukup. Yang menjadi masalah
adalah; i nndikator-indikator apakah yang bisa mewakili kebutuhan-kebutuh
an pokok tersebut? Dua konsultan ekonomi dengan Bank
Dunia mengidentifikasi beberapa hal berikut ini sebagai indikator pendahulunya:
·
Makanan:
Suplai kalori dan protein per kepala sebagai persentase dari yang diperlukan
·
Pendidikan:
Tingkat melek huruf, daftar siswa
sekolah dasar (sebagai persentase dari populasi umur 5-14 tahun)
·
Kesehatan:
Harapan hidup sejak kelahiran
·
Sanitrasi:
Kematian bayi (perseribu kelahiran)
·
Suplai
air: Kematian bayi (perseribu kelahiran)
BAB III
GAMBARAN UMUM RW 007
RW 003 terletak di Kampung Sukasari Desa
Tenjowaringin Kecamatan Salawu. RW 003 terdiri dari 7 RT, yaitu RT 001 sampai
dengan RT 007.
Adapun
data penduduknya yakni sebagai berikut:
·
RT 001 sebanyak 36 KK
dengan jumlah penduduk 139 jiwa
·
RT 002 sebanyak 58 KK
dengan jumlah penduduk 204 jiwa
·
RT 003 sebanyak 40 KK
dengan jumlah penduduk 139 jiwa
·
RT 004 sebanyak 51 KK
dengan jumlah penduduk 209 jiwa
·
RT 004 sebanyak 51 KK dengan
jumlah penduduk 209 jiwa
·
RT 005 sebanyak 45 KK
dengan jumlah penduduk 170 jiwa
·
RT 006 sebanyak 45 KK
dengan jumlah penduduk 152 jiwa
·
RT 007 sebanyak 44 KK
dengan jumlah penduduk 163 jiwa
Maka
jumlah keseluruhan RW 003 adalah sebanyak 319 KK dengan jumlah penduduk 1179
jiwa.
BAB IV
PEMBAHASAN
Proses pembangunan di RW 003 berlangsung secara
bertahap, pembangunan infrastruktur dan sarana penunjang lainnya pun mulai
berkembang. Berikut adalah beberapa indikator yang menjadi target RW 007 untuk
meratakan kesejahteraan masyarakat RW 003. Indikator tersebut, antara lain:
4.1 Angka Harapan Hidup
Untuk dapat memberikan
kesejahteraan dalam bidang kesehatan kepada masyarakat, RW 003 berusaha
memberikan infrastruktur yang mumpuni dalam bidang yang bersangkutan. Salah
satu indikator yang menjadi target RW 003 adalah angka harapan hidup masyarakat
yang saat ini rata-rata mencapai 75 tahun. Dengan adanya Puskesmas dan para
perawat yang membuka praktek di RW 003
turut membantu RW 003 untuk meningkatkan angka harapan hidup masyarakatnya.
Selain itu juga, kader-kader di RW 003 juga turut memberikan
penyuluhan-penyuluhan tentang kesehatan (posyandu) kepada masyarakat.
4.2 Tingkat Melek Huruf
Untuk menekan angka pengangguran dan angka
kemiskinan, RW 003 juga memprioritaskan tingkat melek huruf kepada
masyarakatnya sesuai standar nasional wajib belajar 12 tahun. SDN Panenjoan
yang kebetulan bertempat di RW 003 turut memiliki andil dalam indikator target
tingkat melek huruf yang ditargetkan RW 003, belum lagi sekarang sudah berdiri
PAUD yakni PAUD Al-Mahmud guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
4.3 Indikator Pembangunan
Manusia
Selain kesehatan
dan pendidikan, RW 003 juga turut juga mentargetkan pembangunan manusia melalui
pengadaan fasilitas-fasilitas umum dan kualitas tempat tinggal yang layak.
Fasilitas penerangan, akses air bersih dari PDAM, toilet umum dan saluran
pembuangan adalah beberapa fasilitas yang ada di RW 003.
v Indikator Pembangunan
Versi 1:
Dengan quantity IPM:
|
·
Tinggi : 3
·
Rendah:2
·
Sedang :1
|
·
Sejahtera : 23-33
·
Cukup sejahtera :
12-22
·
Kurang sejahtera :
0-11
|
|
No
|
Uraian
|
Kriteria
|
Bobot Nilai
|
Keterangan
|
|
1
|
Pendapatan masyarakat
|
1.000.000 (sedang)
|
2
|
3
|
|
2
|
Pendidikan Masyarakat
|
SMP (sedang)
|
2
|
3
|
|
3
|
Fasilitas Pendidikan
|
Memadai
|
3
|
3
|
|
4
|
Kesehatan
|
Mayoritas sehat
|
3
|
3
|
|
5
|
Jalan Lingkungan
|
Ditembok
|
3
|
3
|
|
6
|
Kondisi Rumah
|
Mayoritas layak huni
|
3
|
3
|
|
7
|
Kepemilikan kendaraan
motor
|
90% per KK
|
3
|
3
|
|
8
|
Kepemilikan kendaraan
mobil
|
15% per KK
|
1
|
3
|
|
9
|
Fasilitas air minum
|
90% per KK
|
3
|
3
|
|
10
|
Fasilitas sosial
|
Memadai
|
3
|
3
|
|
11
|
Budaya Gotong royong
|
Memadai
|
3
|
3
|
|
Jumlah
|
29
|
33
|
||
v Indikator Pembangunan
Versi 2:
Dengan quantity IPM:
·
Tinggi : 80-100
·
Sedang: 51-79
·
Rendah: 0-50
|
|
Kondisi Buruk
|
Ideal
|
Target
|
|
AHH
|
25
|
85
|
60
|
|
AMH
|
0
|
15
|
100
|
|
RRLS
|
0
|
100
|
100
|
|
DBM
|
300.000
|
737.700
|
437.720
|
Dengan data sebagai berikut:
AHH = 75 tahun
AMH = 99,5%
RRLS = 9 tahun
DBM = 550.000,-
Dari tingkat Pengetahuan, didapat
dan 
Maka
Dengan rumus 
BAB
V
KESIMPULAN
v Proses
pembangunan di RW 003 mengacu pada infrastruktur dengan indikator yang terdapat
dalam landasan teori tersebut diatan yakni Teori PQLI, Teori HDI dan Teori
Pemuas Kebutuhan Pokok.
v Berdasarkan
tingkatan IPM, dari indikator yang terkemuka dalam versi 1 tercatat dengan
bobot nilai 29, termasuk kriteria penduduk yang sejahtera dan juga pada versi 2 terhitung IPM =78,13% masyarakan di
RW 007 termasuk dalam golongan sejahtera.
DAFTAR
PUSTAKA
Drs, Subandi, MM (2012)
Ekonomi Pembangunan, Bandung: Alfabeta
P. Todaro, Michael
(1983) Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga, Jakarta Timur: Ghalia Indonesia
Hakim, Abdul (2010)
Ekonomi Pembangunan, Yogyakarta: Ekonisia
Mutia Rizky, Nuraviva (2011)
Skripsi Analisis Strategi Pemasaran UKM Penghasil Produk Kerajinan
Akar Wangi (Studi Kasus pada KUB Zocha Graha Kriya,
Kabupaten
Garut, Jawa Barat) , Institut Pertanian Bogor
Internet.
No comments:
Post a Comment