3/21/2014

INDIKATOR PEMBANGUNAN DAN TINGKAT KESEJAHTERAAN


INDIKATOR PEMBANGUNAN
DAN
TINGKAT KESEJAHTERAAN
(DI RW 003 DESA TENJOWARINGIN KECAMATAN SALAWU, TASIKMALAYA)

Oleh:
Juwitasari
12.110.0092
Manajemen S1
Semester




Description: D:\hf_dhea31\Tugas Kuliah\stie.jpg




SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI (STIE)
“YASA ANGGANA” GARUT
Jl. Otto Iskandardinata No. 278 A. Tarogong Garut 44151
Telp./ Fax. (0262) 233549




BAB I
LATAR BELAKANG

1.1.   Latar Belakang
Dalam proses pembangunan apapun bentuknya pasti menimbulkan dampak positif maupun negatif bagi masyarakat dan negara. Untuk itu sebelum melaksanakan pembangunan maka pemerintah tersebut harus mengetahui karakteristik masyarakatnya, sehingga dampak negatif dari pembangunan dapat diminimalisir jika tidak dapat dihilangkan. Oleh karena itu, diperlukan indikator-indikator yang dapat dijadikan tolak ukur terjadinya pembangunan.
Salah satu indikator keberhasilan pembangunan adalah semakin meningkatnya kesejahteraan penduduk daerah yang bersangkutan dengan semakin meningkatnya pemerataan kesejahteraan penduduk menyebabkan tingkat kemiskinan dan pengangguran dapat diminimalisir dari daerah yang bersangkutan.
Untuk menilai keberhasilan pembangunan, ada syarat yang diperlukan untuk mengukur atau menunjukkan tingkat keberhasilan pembangunan. Syarat itu harus dimulai dari tingkat pemahaman semua komponen terkait indikator-indikator/variabel-variabel pembangunan serta pengertian penerapan kebijakan dan hasil dari proses pelaksanaan kebijakan.

Pemahaman memadai tentang indikator pembangunan, menunjukan semakin terarah pelaksanaan pembangunan dan semakin tingginya responsif masyarakat dalam mensukseskan dan mencapai sasaran yang ditargetkan dari proses yang ada. Untuk itu, sebelum membahas lebih jauh tentang masalah pembangunan dengan indikator-indikatornya maka terlebih dahulu kita ketahui pengertian, makna dan hakikat pembangunan.
1.2.   Pengertian, Makna dan Hakikat Pembangunan
Pengertian Pembangunan harus kita lihat secara dinamis, dan bukan dilihat sebagai konsep statis. Pembangunan adalah suatu orientasi dan kegiatan usaha yang tanpa akhir. Proses pembangunan sebenarnya adalah merupakan sosial budaya. Pembangaunan agar dapat menjadi suatu proses yang dapat bergerak maju atas kekuatan sendiri tergantung kepada manusia dan struktur sosialnya. Jadi, bukan hanya yang dikonsepsikan sebagai usaha pemerintah belaka.
Pembangunan ekonomi dapat didefinisikan sebagai “suatu rangkaian proses kegiatan yang dilakukan oleh suatu negara untuk mengembangkan  kegiatan atau aktivitas ekonomi untuk meningkatkan taraf hidup/kemakmuran (Income per-kapita) dalam jangka panjang”. Kemakmuran itu sendiri ditunjukkan meningklatnya pendapatan perkapita masyarakat (Pendapatan  Domestik Bruto atau GNP) adanya keseimbangan antara supplay dan demand di pasar.
Proses pembangunan menghendaki adanya pertumbuhan ekonomi yang diikutin dengan perubahan (growth plus change) dalam: (1) perubahan struktur ekonomi, dari pertanian ke industri atau jasa; (2) perubahan kelembagaan, baik lewat regulasi maupun reformasi kelembagaan.
Jadi, pembangunan ekonomi harus dipandang sebagai suatu proses saling keterkaitan dan saling mempengaruhi antar faktor-faktor yang menghasilkan pembangunan ekonomi. Dengan demikian pembangunan ekonomi dipandang sebagai kenaikan dalam pendapatan per-kapita, karena kenaikan tersebut merupakan penerimaan dan timbulnya perbaikan kesejahteraan ekonomi masyarakat yang digambarkan dengan tingkat pertambahan GDP/GNP. Sedangkan pertumbuhan ekonomi diartikan sebagai kenaikan GDP/GNP tanpa memandang apakah kenaikan itu lebih besar atau lebih kecil dari pertumbuhan penduduk, atau apakah terjadi  perubahan struktur ekonomi atau tidak.
Dengan demikian suatu perekonomian dapat dikatakan dalam keadaan berkembang jika pendapatan perkapita menunjukan kecenderungan jangka panjang yang naik.












1.3.   Tujuan Pembahasan
Tujuan pembahasan penelitian di RW 003 ini adalah sebagai berikut:
1.      Untuk menggambarkan proses pembangunan di RW 003
2.      Menjelaskan indikator ekonomi dan sosial serta indikator lainnya yang telah dicapai di RW 003
3.      Menjelaskan tingkat kesejahteraan di RW 003













BAB II
LANDASAN TEORI

2.1  The Physical Quality of Life Inddex (PQLI)
Ukuran kesejahteraan yang lain disamping pendapatan nasional adalah indeks mutu hidup (physical quality of life index, PQLI). PQLI adalah indeks non-ekonomi yang merupakan kombinasi dari tiga indikator:
·         Kematian bayi (jumlah kematian tahunan dari bayi yang berumur dibawah satu tahun per 1000 yang hidup
·         Harapan hidup mulai umur 1 tahun (menghindari overlap dengan kematian bayi)
·         Tingkat melek huruf (dalam persentase).
dua variabel yang pertama mewakili nutrisi, kesehatan masyarakat, pendapatan, dan lingkungan umum. Sebagai contoh, kematian bayi mencerminkan ketersediaan air bersih, kondisi lingkungan rumah, dan kesehatan ibu. Tingkat melek huruf adalah ukuran tingkat pendidikan.

2.2  The Human Development Index (HDI)
The United Nations Development Program (UNDP) mendefinisikan pembangunan manusia sebagai sebuah proses memperluas pilihan masyarakat. Yang paling penting adalah pilihan untuk berumur panjang dan sehat, mendapatkan pendidikan yang cukup, dan menikmati standar kehidupan yang layak. Ketika banyak kalangan mengatakan bahwa tahun 1980-an adalah sebuah ‘dekade yang hilang’ bagi negara-negara berkembang, UNDP mengatakan bahwa sebenarnya perbedaan pembangunan manusia antara DCs dan LDCs adalah jauh lebih kecil daripada kesenjangan dalam pendapatan per kapita. Kesenjangan dalam pendapatan per kapita antara negara-negara Barat dan negara-negara berkembang, memang membesar, tetapi seiring dengan itu kesenjangan pembangunan manusianya semakin menyempit. Bagaimana UNDP bisa mengukur pembangunan manusia itu? UNDP telah menyusun ukuran alternatif tentang kesejahteraan, yaitu The Human Development Index (indeks pembangunan manusia).
HDI meringkas tiga variabel kesejahteraan dan meringkasnya dalam sebuah indeks komposit tunggal. Variabel-variabel tersebut adalah:
·         Umur Panjang (longevity), sebagai pengukur kesehatan dan nutrisi. Umur panjang diukur dengan merata-rata harapan hidup (dalam tahun) dari tingkat kelahiran, dihitung dengan mengasumsikan bahwa seorang bayi lahir dalam satu tahun tertentu akan mengalami tingkat kematian seketika dari tiap kelompok umur (tahun pertama, tahun kedua, tahun ketiga, dan seterusnya sampai tahun ke-n) sepanjang hidupnya.
·         Pendidikan. Terdiri dari rata-rata terbobot antara (a) tingkat melek huruf dari kaum dewasa dalam persentase (bobot 2/3), (b) tahun-tahun utama dari masa sekolah seseorang sepanjang 25 tahun dari umurnya (bobot 1/3)
·         Standar hidup. Indikator standar kehidupan GDP per kapita rill dalam dolar PPP, dengan tanpa diskon sampai dengan suatu tingkat kemiskinan global dengan dasar kebutuhan pendapatan yang dibutuhkan untuk mencapai tingkat nutrisi minimal (1$4,829 pada tahun 1990), dan diskon yng meningkat dengan progresif dengan meningkatkan pendapatan, merefleksikan utilitas marjinal yang semakin menurun dari pendapatan.
Untuk menyusun sebuah indeks komposit, kita harus menentukan nilai maksimum dan minimum untuk tiap tiga variabel harapan hidup, pendidikan, dan GDP rill per kapita yang sudah disesuaikan. Kita menormalkan nilai observasi untuk masing-masing variabel dengan skala 0-1. Kemudian kita mengukur depreviasi kemudian merata-rata tiga tingkat depreviasi untuk mendapatkan HDI. HDI dapat diasumsikan bernilai antara 0 sampai dengan 1.

2.3  Pemenuhan Kebutuhan Pokok
Pendekatan kebutuhan pokok menggeser perhatian dari memaksimalkan output menjadi meminimalkan kemiskinan. Perhatian sekarang ditekankan bukan hanya pada ‘seberapa banyak yang harus diproduksi’, akan tetapi juga pada ‘apa yang harus diproduksi, dengan cara bagaimana, untuk siapa, dan dengan konsekuensi yang bagaimana’.
Kebutuhan pokok meliputi nutrisi, pendidikan dasar, kesehatan, sanitasi, suplai air dan perumahan yang cukup. Yang menjadi masalah adalah; i nndikator-indikator apakah yang bisa mewakili kebutuhan-kebutuh
an pokok tersebut? Dua konsultan ekonomi dengan Bank Dunia mengidentifikasi beberapa hal berikut ini sebagai indikator pendahulunya:
·         Makanan: Suplai kalori dan protein per kepala sebagai persentase dari yang diperlukan
·         Pendidikan: Tingkat melek huruf, daftar siswa sekolah dasar (sebagai persentase dari populasi umur 5-14 tahun)
·         Kesehatan: Harapan hidup sejak kelahiran
·         Sanitrasi: Kematian bayi (perseribu kelahiran)
·         Suplai air: Kematian bayi (perseribu kelahiran)












BAB III
GAMBARAN UMUM RW 007

RW 003 terletak di Kampung Sukasari Desa Tenjowaringin Kecamatan Salawu. RW 003 terdiri dari 7 RT, yaitu RT 001 sampai dengan RT 007.
Adapun data penduduknya yakni sebagai berikut:
·         RT 001 sebanyak 36 KK dengan jumlah penduduk 139 jiwa
·         RT 002 sebanyak 58 KK dengan jumlah penduduk 204 jiwa
·         RT 003 sebanyak 40 KK dengan jumlah penduduk 139 jiwa
·         RT 004 sebanyak 51 KK dengan jumlah penduduk 209 jiwa
·         RT 004 sebanyak 51 KK dengan jumlah penduduk 209 jiwa
·         RT 005 sebanyak 45 KK dengan jumlah penduduk 170 jiwa
·         RT 006 sebanyak 45 KK dengan jumlah penduduk 152 jiwa
·         RT 007 sebanyak 44 KK dengan jumlah penduduk 163 jiwa
Maka jumlah keseluruhan RW 003 adalah sebanyak 319 KK dengan jumlah penduduk 1179 jiwa.




BAB IV
PEMBAHASAN

Proses pembangunan di RW 003 berlangsung secara bertahap, pembangunan infrastruktur dan sarana penunjang lainnya pun mulai berkembang. Berikut adalah beberapa indikator yang menjadi target RW 007 untuk meratakan kesejahteraan masyarakat RW 003. Indikator tersebut, antara lain:
4.1  Angka Harapan Hidup
Untuk dapat memberikan kesejahteraan dalam bidang kesehatan kepada masyarakat, RW 003 berusaha memberikan infrastruktur yang mumpuni dalam bidang yang bersangkutan. Salah satu indikator yang menjadi target RW 003 adalah angka harapan hidup masyarakat yang saat ini rata-rata mencapai 75 tahun. Dengan adanya Puskesmas dan para perawat yang membuka praktek  di RW 003 turut membantu RW 003 untuk meningkatkan angka harapan hidup masyarakatnya. Selain itu juga, kader-kader di RW 003 juga turut memberikan penyuluhan-penyuluhan tentang kesehatan (posyandu) kepada masyarakat.

4.2  Tingkat Melek Huruf
Untuk menekan angka pengangguran dan angka kemiskinan, RW 003 juga memprioritaskan tingkat melek huruf kepada masyarakatnya sesuai standar nasional wajib belajar 12 tahun. SDN Panenjoan yang kebetulan bertempat di RW 003 turut memiliki andil dalam indikator target tingkat melek huruf yang ditargetkan RW 003, belum lagi sekarang sudah berdiri PAUD yakni PAUD Al-Mahmud guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

4.3  Indikator Pembangunan Manusia
Selain kesehatan dan pendidikan, RW 003 juga turut juga mentargetkan pembangunan manusia melalui pengadaan fasilitas-fasilitas umum dan kualitas tempat tinggal yang layak. Fasilitas penerangan, akses air bersih dari PDAM, toilet umum dan saluran pembuangan adalah beberapa fasilitas yang ada di RW 003.

v  Indikator Pembangunan Versi 1:
Dengan quantity IPM:
·         Tinggi  : 3
·         Rendah:2
·         Sedang :1
·         Sejahtera            : 23-33
·         Cukup sejahtera : 12-22
·         Kurang sejahtera : 0-11

No
Uraian
Kriteria
Bobot Nilai
Keterangan
1
Pendapatan masyarakat
1.000.000 (sedang)
2
3
2
Pendidikan Masyarakat
SMP (sedang)
2
3
3
Fasilitas Pendidikan
Memadai
3
3
4
Kesehatan
Mayoritas sehat
3
3
5
Jalan Lingkungan
Ditembok
3
3
6
Kondisi Rumah
Mayoritas layak huni
3
3
7
Kepemilikan kendaraan motor
90% per KK
3
3
8
Kepemilikan kendaraan mobil
15% per KK
1
3
9
Fasilitas air minum
90% per KK
3
3
10
Fasilitas sosial
Memadai
3
3
11
Budaya Gotong royong
Memadai
3
3
Jumlah
29
33


v  Indikator Pembangunan Versi 2:
Dengan quantity IPM:
·         Tinggi  : 80-100
·         Sedang: 51-79
·         Rendah: 0-50


Kondisi Buruk
Ideal
Target
AHH
                25
                 85
              60
AMH
                  0
                 15
             100
RRLS
                  0
                100
             100
DBM
       300.000
         737.700
       437.720

Dengan data sebagai berikut:
AHH = 75 tahun
AMH = 99,5%
RRLS = 9 tahun
DBM = 550.000,-
Dari tingkat Pengetahuan, didapat  dan
Maka  
           
           
           
           
Dengan rumus
 
                       


           
           


BAB V
KESIMPULAN


v  Proses pembangunan di RW 003 mengacu pada infrastruktur dengan indikator yang terdapat dalam landasan teori tersebut diatan yakni Teori PQLI, Teori HDI dan Teori Pemuas Kebutuhan Pokok.
v  Berdasarkan tingkatan IPM, dari indikator yang terkemuka dalam versi 1 tercatat dengan bobot nilai 29, termasuk kriteria penduduk yang sejahtera dan juga pada  versi 2 terhitung IPM =78,13% masyarakan di RW 007 termasuk dalam golongan sejahtera.













DAFTAR PUSTAKA

Drs, Subandi, MM (2012) Ekonomi Pembangunan, Bandung: Alfabeta
P. Todaro, Michael (1983) Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga, Jakarta Timur: Ghalia Indonesia
Hakim, Abdul (2010) Ekonomi Pembangunan, Yogyakarta: Ekonisia
Mutia Rizky, Nuraviva (2011)  Skripsi Analisis Strategi Pemasaran UKM Penghasil Produk Kerajinan
Akar Wangi (Studi Kasus pada KUB Zocha Graha Kriya,
Kabupaten Garut, Jawa Barat) , Institut Pertanian Bogor
Internet.

No comments:

Post a Comment